Organisasi dalam segala macam
bentuk dan jenisnya dalam mewujudkan tujuan bersama dengan seluruh elemen yang ada pasti pernah
mengalami situasi yang tidak bisa memuaskan keinginan semua orang yang terlibat
dalam usaha mencapai tujuan tersebut. Hal ini sangat wajar karena di dalam
organisasi terdiri dari berbagai macam latar belakang suku, agama, etnis, budaya, sosial, ekonomi,
politik, dan bahkan negara yang berda-beda. Organisasi yang pada umumnya
memiliki tingkat heteroginitas tinggi, sangat potensial terhadap munculnya
konflik baik konflik individu maupun konflik organisasi. Dalam interaksi sosial
antara individu atau antar kelompok atau kombinasi keduanya, sebenarnya konflik
merupakan hal yang alamiah.
Konflik yang ditimbulkan oleh
masalah-masalah hubungan pribadi dengan sekup yang kecil kadang-kadang memiliki
dampak luas dalam suatu organisasi. Ketidaksesuaian tujuan dan nilainilai
pribadi seseorang dalam jabatan
tertentu yang diembannya seringkali sangat resisten terhadap konflik.
Sebaliknya konflik juga bisa timbul karena adanya stimulus yang besar seperti perebutan
sumber daya antar depertemen/bagian
mungkin tidak berakibat luas karena dalam menangani dan mengelolanya
tepat, sehingga dampak yang diakibatkan
bisa di minimalisir. Secara
umum konflik tidak bisa dihilangkan sama sekali, tetapi hanya bisa ditekan atau
dikurangi kualitas, kuantitas, dan intensitasnya.
Dalam kehidupan manusia
sehari-hari, konflik dapat timbul dan muncul kapan saja (pagi, siang, sore,
malam), dimana saja (di kantor, di rumah, di pasar, di sawah, di jalan, di
stasiun, di bandara, di terminal, di swalayan, di kawasan kumuh, di kawasan elit,
dan di istana) sekalipun. Konflik juga bisa dialami oleh siapa saja (orang tua, remaja, anak-anak, pria, wanita,
orang terpelajar, orang awam, orang miskin, dan orang kaya atau jutawan) atau
siapapun yang hidup berinteraksi dengan orang lain. Dengan kata lain konflik
merupakan realita hidup, mau tidak mau, suka atau tidak, cepat atau lambat pada
suatu saat dalam menjalani kehidupannya orang pasti akan menghadapinya hanya
saja tergantung besar kecilnya tingkat konflik yang dihadapi.
Oleh karena konflik dapat terjadi
dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa
saja, maka konflik ibarat suatu penyakit harus dikenali apa jenis dan
penyebab timbulnya penyakit tersebut. Setelah mengenali penyebabnya, kita juga
harus mengetahui apa obat yang cocok untuk mengobatinya. Apabila keduanya telah
teridentifikasi, maka hal yang harus kita temukan adalah bagaimana menghindari
jenis-jenis makanan (pantangan) yang mungkin bisa menimbulkan kambuh atau
parahnya penyakit tersebut. Penyakit seringan apapun, jika tidak diobati sejak
dini akan menggangu kesehatan dan kebugaran tubuh, bukan saja terhadap orang
yang menderita penyakit sendiri tetapi sangat mungkin menyerang orang lain akibat
tertular secara tidak sengaja ketika saling berinteraksi satu sama lain yang
menyebabkan kematian.
Demikian halnya terhadap
konflik yang terjadi dalam suatu organisasi, sekecil apapun konflik yang muncul
baik yang berasal dari masing-masing individu atau organisasi secara luas, harus
dikenali apa yang menstimulus munculnya konflik tersebut. Dari aspek waktu,
konflikperlu dilihat kapan munculnya dan
pada saat apa konflik tersebut diketahui. Sedangkan dari aspek tempat, konflik
juga perlu dilihat dimana konflik terjadi, serta pada situasi yang bagaimana
konflik tersbut muncul. Kemudian dari
sisi pelaku, siapa saja yang terlibat dalam konflik tersebut, dan mencari tahu
jawaban tentang apa akar masalah yang menjadi penyebab konflik tersebut.
Kesadaran, kepekaan, dan kecermatan/kecerdasan dalam menemukan sebab kemudian
mampu mengelolanya merupakan langkah
yang sangat dibutuhkan dalam suatu kpemimpinan organisasi.
Konflik yang muncul dalam suatu
organisasi akan mengganggu kelancaran hubungan antar individu anggota
organisasi. Apabila hubungan antar individu terganggu akibat adanya konflik, maka
pribadi-pribadi yang berkonflik akan merasakan suasana kerja dan suasana
psikologis tertekan. Orang-orang yang bekerja di bawah tekanan psikologis dapat
mengakibatkan menurunnya tingkat motivasi kerja. Akibat dari semua itu prestasi
kerja berkurang sehingga secara luas hal tersebut akan mengakibatkan produktivitas
kerja pribadi dan organisasi/perusahaan menurun.
Konflik pada dasarnya berkaitan
erat dengan perasaan (emosi) manusia, seperti perasaan diabaikan, disepelekan,
dan tidak dihargai oleh kawan seprofesi, atasan, maupun terhadap orangorang
yang menjadi bawahan. Perasaan tidak
dihargai dan disepelekan seringkali muncul ketika distribusi informasi
organisasi tidak terkomunikasikan dengan baik sesuai standar operasioanl prosedur
yang telah disepakati bersama. Keadaan seperti ini dapat mempengaruhi seseorang
dalam melakukan pekerjaan yang terlalu sering berbuat salah.
Jenis-jenis Konflik
Organisasi dengan skala besar
maupun kecil yang pernah mengalami dan menyelesaikan konflik-konfliknya,
setidaknya membagi jenis konflik menjadi 4, Sukanto, (1996:232), masingmasing
sebagai berikut:
1. Konflik peranan yang terjadi
di dalam diri seseorang (person-role conflict) di mana peraturan yang berlaku
tak dapat diterima oleh seseorang sehingga orang tersebut memilih untuk tidak
melaksanakan sesuatu sesuai dengan peraturan yang berlaku tersebut.
2. Konflik antar peranan
(inter-role conflict) di mana orang menghadapi persoalan karena dia menjabat
dua atau lebih fungsi yang saling bertentangan seperti seseorang yang menjadi mandor
dalam perusahaan tetapi juga sebagai ketua serikat pekerja.
3. Konflik yang timbul karena
seseorang harus memenuhi harapan beberapa orang (intersender conflict),
misalnya seorang rektor yang harus memenuhi permintaan dari dekan-dekan fakultas
yang berlainan atau dekan yang harus mengakomodir semua kepentingan/kebutuhanpara
ketua jurusan yang juga sangat bermacam-macam.
4. Konflik yang timbul karena
disampaikannya informasi yang saling bertentangan (intrasender conflict).
Penyebab Konflik
Berdasarkan hasil kesimpulan
beberapa definisi tentang konflik yang telah disebut di atas, konflik sebagai
sebuah situasi timbul karena adanya
sebab yang mengkondisikannya. Sebabsebab umum yang sering menimbulkan konflik
dalam suatu organisasi menurut Agus Hardjana, 1994:24 antara lain:
1. Salah pengertian,
informasi/berita yang tidak dikomunikasikan secara lengkap/utuh dapat menimbulkan
konflik. Informasi yang lengkap dan jelas tetapi tidak disampaikan tepat waktu juga
dapat menimbulkan konflik. Dari sisi penerima informasi/pesan, semua pesan
telah diterima secara komplit/utuh, jelas, tepat waktu, tetapi salah dalam memahami dan menterjemahkan
informasi yang diterima tersebut. Pengumuman tentang akan adanya pemadaman
listrik di suatu organisasi tidak sampai pada operator genset/diesel penggerak listrik
pengganti akan menyebabkan terganggunya operasi mesin presensi on line atau
bagian olah data di departemen penelitian dan pengembangan.
2. Perbedaan tujuan kerja karena
perbedaan nilai hidup yang dianut. Orang yang bekerja karena ingin mendapatkan
upah/gaji demi menghidupi ekonomi keluarga akan sangat berbeda motivasi/semangat
dan cara kerjanya jika dibandingkan dengan orang yang bekerja hanya karena
ingin mengabdikan dirinya sebagai panggilan hidup. Orang-orang yang secara
materi sudah berkecukupan, bekerja kadangkala hanya digunakan untuk memperoleh
status sosial saja, sehingga kondisi semacam ini memunculkan disorientasi kerja
antara orang satu dengan lainnya.
3. Perebutan dan persaingan dalam
hal fasilitas kerja dan suatu jabatan yang terbatas. Konflik dapat muncul dalam
situasi di mana orang-orang yang
berkeinginan untuk menduduki jabatan supervisor, manajer, direktur,
sampai presiden direktur sangat banyak sementara pospos jabatan yang ingin
dituju sangatlah terbatas. Perebutan/persaingan pos-pos jabatan seperti di atas
sangat potensial menimbulkan gesekan kepentingan. Keterbatasan fasilitas kendaraan
dinas, alat kerja seperti komputer, mesin ketik, kalkulator, dan tempat parkir
juga bisa menjadi perebutan dan saling menguasai satu sama lain.
4. Masalah wewenang dan
tanggungjawab. Jenis pekerjaan yang bermacam-macam dan saling memiliki
keterkaitan satu sama lain memungkinkan terjadinya lempar tanggungjawab atas pekerjaan
tertentu. Dalam organisasi yang besar dengan kompleksitas pekerjaan dan masalah
yang besar, batas-batas wewenang dan tanggungjawab antar lini atau bagian/departemen walaupun
sudah jelas dan terstandar tetapi seringkali masih menyisakan
persoalan-persoalan yang di luar kebiasaan. Contoh nyata adalah bagian
persuratan, bagian distribusi, dan bagian pengemudi. Ketiga unit kerja dengan
tugas dan tanggungjawabnya masing-masing pada situasi tertentu bisa saling
melempar pekerjaan dalam hal pengiriman surat.
Jika sudah terjadi demikian, maka sebenarna konflik sudah terjadi
walupun eksalasinya masih sangat sempit dan sederhana. Akan tetapi bila
kejadian ini terus terulang dan pimpinan tidak ada upaya mengatasinya, maka
bukan tidak mungkin konflik akan meluas yang menyebabkan terganggunya
pencapaian kinerja organisasi secara luas.
5. Penafsiran yang berbeda atas
suatu hal, perkara, dan peristiwa yang sama. Organisasi yang beranggotakan
orang-orang dengan berbagai latar belakang suku, agama, pendidikan, jenis kelamin,
dan usia memiliki tingkat heteroginitas yang sangat tinggi. Karena anggota organisasi
yang berbeda latar belakang, sudah barang tentu
keinginan, harapan, sudut pandang, ide, gagasan, dan tujuan setiap orang
juga berbeda-beda pula. Perbedaan sudut pandang terhadap suatu peristiwa antar
individu memungkinkan munculnya pertentangan pendapat yang bias menimbulkan
konflik. Organisasi yang identik dengan birokrasi, aturan, dan tata tertib
memaksa tiap individu mematuhi dan menepati aturan-aturan tersebut. Dalam menjalankan
aturan dan tata tertib seorang pegawai/karyawan ada yang tidak sama antar pegawai yang satu dengan yang
lain, hal ini diakibatkan oleh perbedaan penafsiran, sudut pandang, dan
interpretasi atas peraturan yang ada.
6. Kurangnya kerja sama antar
pegawai, antara pegawai dengan pimpinan, dan antara pimpinan dengan pimpinan
dapat menyebabkan hasil kerja tidak optimal. Penyebab hasil kerja yang tidak
optimal tersebut seringkali dicarikan kambing hitam (scape goat), saling
menyalahkan, saling mencari pembenaran sendiri,
bahkan saling mencaci yang
akhirnya menimbulkan konflik dalam organisasi.
7. Tidak menaati tata tertib yang
berlaku bagi semua anggota oraganisasi. Jika pada kasus nomor 5 di atas orang
melanggar tata tertib (tidak sengaja) karena perbedaan penafsiran, dalam kasus
pegawai yang tidak menaati tata tertib lebih disebabkan karena sikap pegawai yang
tidak disiplin. Sikap tidak disiplin yang ditunjukkan oleh seorang pegawai karena
adanya kecenderungan penyimpangan perilaku yang dapat menimbulkan kecemburuan/kekecewaan
terhadap pegawai-pegawai yang taat dan tertib dengan peraturan.Kecemburuan/kekecewaan
inilah yang bisa menjadi penyulut timbulnya konflik dalam organisasi.
8. Ada usaha untuk menguasai dan
merugikan. Pada dasarnya setiap orang tidak ada yang mau dikuasi, dijajah,
disepelekan, dan di tindas harga diri dan eksistensinya dalam pergaulan di level
manapun. Organisasi yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok orang
seringkali ingin mencari pengaruh dan menunjukkan superiroritasnya diantara
kelompok-kelompok minoritas yang lain. Usaha kelompok tertentu dalam organisasi
untuk menguasai kelompok lain dengan tujuan mencari keuntungan di satu sisi dan
merugikan di sisi yang lain dapat memunculkan situasi/gejolak terutama kelompok
yang merasa dirugikan. Gejolak yang muncul inilah yang dapat membulkan konflik
organisasi yang harus diredam dan dicarikan penyelesaiannya oleh para
manajer/pimpinan.
9. Pelecehan pribadi dan
kedudukan. Orang yang pribadi dan kedudukannya dilecehkan merasa harga dirinya
di injak dan dan direndahkan. Apalagi orang yang melecehkan tersebut secara hirarki
tidak setara kedudukannya dibandingkan dengan orang yang dilecehkan. Seorang yang
pribadi dan kedudukannya diremehkan dan dihina orang lain biasanya melakukan perlawanan.
Kadangkala perlawanan melibatkan bawahan masing yang berkonflik, sehingga cakupan
konfliknya menjadi meluas.
10. Perubahan dalam sasaran dan
prosedur kerja. Pada dasarnya orang yang sudah berada pada posisi nyaman
(comfort zone) memiliki kecenderungan untuk memepertahankan status quo alias
tetap. Bagi orang yang berada dalam wilayah nyaman, perubahan dianggap sebagai ancaman
yang harus dilawan. Perubahan hanya akan merugikan dirinya, baik dari sisi
karir, kedudukan, kewenangan, pestise, pengaruh maupun secara ekonomi.
Selain itu, jika dipandang
dari sumbernya konflik juga bisa timbul karena adanya beberapa sebab antara
lain:
1. Konflik individu, timbul
ketika seorang individu sedang menghadapi pekerjaan yang tidak disukainya di
satu sisi tetapi harus dilakukannya pada sisi yang lain sebagai bentuk konsekuensi
dari status dan jenjang kepangkatan yang melekat pada dirinya. Selain itu pada situasi
tertentu seseorang akan mengalami konflik individu ketika target pekerjaan yang
harus diselesaikannya tidak didukung oleh kemampuan teknis yang dimilikinya
karena faktor pendidikan, usia, dan kesehatan.
2. Konflik antar individu, timbul
dalam suatu organisasi akibat perbedaan latar belakang, etnis, suku, agama,
tujuan, dan kepribadian antar individu. Konflik semacam ini juga bisa muncul karena
antar individu dibedakan oleh peranan masing-masing dalam organisasi seperti direktur
dengan manajer, manajer dengan mandor, dan mandor dengan para buruh atau sebaliknya.
Perbedaan peran tentunya memunculkan perbedaan tujuan, orientasi, dan kepentingan
masing-masing.
3. Konflik antara individu dengan
kelompok, hal ini terjadi karena individu tertentu seabagai bagian dari
kelompok dalam suatu organisasi tidak/kurang bisa memberikan manfaat baik secara
langsung maupun tidak langsung sehingga dikucilkan dari pergaulan kelompok tersebut.
Perasaan dikucilkan, tidak dihargai, tidak dipandang/dihormati seperti individu
yang lain menimbulkan konflik individu
yang dapat mengganggu integritas dan keseimbangan hubungan antar individu
sehingga dapat merugikan organisasi secara keseluruhan.
4. Konflik antar kelompok,
konflik ini terjadi karena perbedaan kepentingan dan tujuan yang satu sama lain
tidak ada yang mau mengalah. Biasanya konflik antar kelompok ini muncul karena
ingin saling menguasai, yang mayoritas merasa lebih berhak menjadi pemimpin dan
menentukan tujuan kelompok tersebut. Sedangkan kelompok minoritas berasumsi
bahwa dalam kelompok tidak bolah ada superior dan inferior, semua memiliki hak
dan kewajiban yang sama, berhak atas perlakuan dan keadilan yang sama.
5. Konflik antara kelompok dengan
organisasi, konflik ini timbul ketika organisasi menuntut target produktivitas
terlalu tinggi sedangkan para individu anggota organisasi hanya bisa memberikan
terlalu rendah. Seorang direktur ingin perusahaannya maju dengan tingkat produksi
yang optimal agar dicapai laba perusahaan secara optimal pula, sementara dari
sisi manajer, mandor, buruh/karyawan berkeinginan bagaimana memperoleh gaji/upah
yang setinggi-tingginya agar dapat mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.
6. Konflik antar organisasi,
timbul sebagai akibat persaingan bisnis, persaingan memperoleh pengakuan/pengaruh
dari masyarakat, kesalahpahaman antar individu anggota organisasi saja tetapi
mengakibatkan eskalasi masalahnya melibatkan masing-masing organisasisehingga
pihak manajemen harus turun tangan. Dari
sisi bisnis, perang harga, perebutan pangsa pasar, pengembangan produk, dan
kemajuan teknolgi menimbulkan konflik sesama organisasi.
Akibat-akibat Konflik
Konflik yang muncul dan terjadi
dalam suatu organisasi/perusahaan yang disebabkan oleh faktor apapun, memiliki
konsekuensi atau akibat bagi seluruh elemen oraganisasi tersebut.Sebagai sebuah
sebab, maka konflik juga dapat membawa akibat positif dan negatif.
1. Akibat Positif
a. Organisasi memiliki
dinamika dan jalinan yang akrab satu
sama lain karena adanya interaksi yang intensif antar sesama anggota organisasi
baik yang terlibat langsung dengan konflik maupun yang lain. Konflik antar individu
atau antar kelompok yang diselesaikan dengan damai dan adil akan membawa
keharmonisan dan kebersamaan yang saling menguatkan.
b. Orang-orang yang pernah
berkonflik memahami akan dampak yang diakibatkan oleh konflik yang dilakukan,
sehingga pengalaman masa lalu dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga dalam
bekerja. Jika harus terjadi konflik serupa, maka satu sama lain akan saling
berusaha memahami dan menyelaraskan dengan lingkungan di mana berada.
c. Konflik yang muncul akibat
ketidakpuasan atas diberlakukannya peraturan tentang upah/gaji dan jenis
kesejahteraan lainnya yang sebelumnya ditentang, boleh jadi oleh pihak
manajemen pemberlakuannya ditunda atau dibatalkan.
d. Konflik yang timbul tetapi
bisa diredam dan dikelola secara baik dapat melahirkan kritikkritik membangun, cerdas, kreatif, dan inovatif demi
kebaikan organisasi secara keseluruhan baik jangka pendek maupun jangka panjang.
e. Anggota organisasi yang tidak
terlibat secara langsung dalam suatu konflik, dapat mengambil hikmah dan bisa
belajar bagaimana menghadapi perbedaan sifat, sikap, dan perilaku orang lain di
tempat kerja.
2. Akibat Negatif
a. Komunikasi organisasi terhambat
b. Kerjasama yang sudah dan akan
terjalin antar individu dalam organisasi menjadi terhalang/terhambat.
c. Aktivitas produksi dan
distribusi dalam perusahaan menjadi terganggu, bahkan sangat mungkin dapat
mengakibatkan turunnya omset penjualan dalam kurun waktu tertentu.
d. Masing-masing pihak yang
berkonflik sangat rentan tersulut adanya situasi atau hal lain yang memancing
kedua belah pihak untuk berkonflik lagi.
e. Bekerja dalam situasi yang
sedang ada konflik menyebabkan orang yang tidak ikut berkonflikpun ikut
merasakan dampaknya seperti situasi kerja yang tidak kondusif, antar pegawai/karyawan
muncul saling mencurigai, salah paham, dan penuh intrik yang mengganggu
hubungan antar individu.
f. Individu yang sedang
berkonflik merasa cemas, stres, apatis, dan frsutasi terhadap situasi yang
sedang dihadapi. Bekerja dalam situasi dan kindisi psikologis seseorang seperti
ini tentunya dapat menyebabkan menurunnya etos kerja yang akhirnya merugikan produktivitas
organisasi/perusahaan secara luas.
g. Akibat terburuk bagi
orang-orang yang sedang berkonflik dalam suatu organisasi adalahstres yang
berkepanjangan hingga menarik diri dari pergaulan dan mangkir dari pekerjaan.
Akibat akumulasi dari kondisi ini adalah yang bersangkutan berhenti atau diberhentikan
dari pekerjaan karena seringnya mangkir dari pekerjaan sehingga dapat merugikan
perusahaan.
sumber :
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/KONFLIK%20ORGANISASI_0.pdf
Agus M Hardjana, 1994. Konflik di Tempat Kerja, Kanisius, Yogyakarta.
--------------------, 2010. Konflik dalam Organisasi, http:id.wikipwdia.org/wki.konflik, diakses
tanggal 2 Juni 2010.
Daniel Carolus K, 2010. Konflik dalam Organisasi: Berkat atau Kutuk,
http://www.kadnett:info/web diakses tanggal 10 Juni 2010.
M. Kamil Kozan. 2002. Subcultures and Conflict Management Style. Management International
Review.
Ritha F Dalimunthe, 2010. Peranan manajemen Konflik pada Suatu Organisasi, ........... diakses
tanggal 10 Juni 2010.
Sudarmanto, 2009. Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM (Teori, Dimensi Pengukuran,
dan Implementasi dalam Organisasi), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Sukanto Reksohadiprodjo , 1996. Organisasi Perusahaan (Teori, Struktur, dan Perilaku) BPFE,
Yogyakarta.
-------------------, 2010. Manajemen Konflik Sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja,
http://www.um-pwr.ac.id/web, diakses tanggal 21 Juni 2010